SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Beberapa hari ini viral di media sosial, event running atau lari di Surabaya.
Event running tersebut viral karena sejumlah hal.
Namun, satu di antara yang paling menonjol karena dianggap mengganggu masyarakat karena digelar di tengah kota.
Jika diperhatikan, event running yang belakangan sering muncul biasanya memang mengambil tempat di jalan-jalan kota.
Peserta berlari melewati jalan utama, kawasan pusat kota, gedung-gedung, sampai tempat yang menjadi ikon suatu daerah. Tapi pernah kepikiran nggak sih, kenapa kebanyakan event lari justru memilih jalan kota, bukan tempat yang lebih sepi atau jauh dari keramaian?
Jawabannya ternyata bukan cuma karena pemandangannya lebih menarik akan ttapi jalanan kota memang lebih cocok untuk event lari yang melibatkan banyak peserta sekaligus.
Jalan yang lebar dan sudah memiliki rute jelas membuat panitia lebih mudah mengatur jalannya perlombaan, mulai dari titik start, jalur peserta, sampai garis finish.
Jumlah pesertanya juga menjadi salah satu pertimbangan. Event running sekarang tidak hanya diikuti oleh atlet atau pelari yang mengejar waktu terbaik.
Banyak event justru dibuat sebagai mass participation race, sehingga peserta bisa datang dari berbagai usia dan tingkat kemampuan nah dalam event seperti ini, lokasi yang mudah dijangkau tentunya menjadi nilai tambah.
Jalan kota juga membuat event running bisa menjadi lebih dari sekadar perlombaan. Rute yang melewati kawasan tertentu dapat menjadi cara untuk memperkenalkan sebuah kota kepada peserta, mereka tidak hanya datang untuk berlari, tetapi juga bisa melihat suasana kota dari sudut yang berbeda.
Itulah sebabnya beberapa event besar justru menjadikan jalan kota sebagai bagian dari pengalaman. World Athletics misalnya, dalam World Road Running Championships 2026 di Copenhagen, membawa puluhan ribu pelari melewati jalan-jalan kota.
Selain menjadi tempat perlombaan, kawasan kota juga menjadi bagian dari suasana dan pengalaman penonton.
Tentu bukan berarti event lari di alam atau pegunungan kalah menarik.
Justru event seperti trail run memiliki daya tariknya sendiri dimana medannya berbeda, pemandangannya lebih dekat dengan alam, dan tantangan yang diberikan kepada pelari juga tidak sama dengan berlari di jalan aspal.
Karena itu, event di kota dan di gunung sebenarnya punya tujuan yang berbeda. Kalau road running lebih menonjolkan rute yang terukur, dan pengalaman berlari di lingkungan perkotaan, trail running menawarkan pengalaman menghadapi medan alam yang lebih beragam.
Ketika event lari menggunakan jalan umum, tentu ada pekerjaan besar di baliknya.
Rute harus diamankan dari kendaraan, persimpangan perlu dijaga, dan pergerakan peserta harus diatur. World Athletics sendiri menetapkan bahwa rute road race harus ditutup dari lalu lintas kendaraan selama perlombaan berlangsung, dengan petugas pengatur di persimpangan.
Jadi, kalau suatu pagi tiba-tiba melihat jalan kota dipenuhi pelari dan sebagian jalan ditutup, sebenarnya ada banyak alasan di balik pemilihan lokasi tersebut.
Bukan semata-mata karena panitia ingin membuat jalanan ramai, tetapi karena kota memang menyediakan banyak hal yang dibutuhkan untuk event dengan peserta dalam jumlah besar.
Mau lari di tengah kota atau di jalur pegunungan kembali lagi pada pengalaman yang ingin dicari. Ada yang senang mengejar personal best di jalan yang datar, ada juga yang lebih suka berlari sambil menikmati jalur alam. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Nova Yulia




