SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Perkumpulan Putra Surabaya (Pusura) kini berusia sembilan dekade dalam peringatan ulang tahunnya yang ke-90, Sabtu (26/9/2026).
Mengusung tema kebersamaan “Guyub Rukun Sinawung”, momen bersejarah ini dirayakan sebagai perwujudan komitmen untuk terus merekatkan tali silaturahmi, menjaga kerukunan, serta merawat nilai-nilai kebudayaan lokal di tengah pesatnya modernisasi Kota Surabaya.
Rangkaian acara peringatan dimeriahkan dengan tradisi potong tumpeng, doa bersama, hingga pertunjukan seni lokal yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, tokoh pemuda, dan sesepuh kota.
Tema “Guyub Rukun Sinawung” sendiri membawa makna mendalam, yakni ajakan untuk menyatukan perbedaan dalam keharmonisan serta saling melengkapi antarwarga dalam membangun kota.
Baca juga: Perkuat Posisi di Surabaya, Morula Tanda Tangani AJB Pengambilalihan RSIA Pusura Tegalsari
Ketua Umum Pusura Hoslih Abdullah menyampaikan bahwa perjalanan 90 tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah organisasi kemasyarakatan.
Peran aktif jajaran pengurus dan pemuda dinilai sangat krusial untuk memastikan Pusura tetap relevan sebagai wadah pemersatu.
”Di usia yang ke-90 ini, kami ingin menegaskan kembali jati diri Pusura. Guyub Rukun Sinawung bukan sekadar slogan, melainkan landasan bagi kita semua untuk saling bertoleransi,” ujar tokoh masyarakat yang akrab disapa Cak Dullah ini.
Menurutnya, keberagaman masyarakat Surabaya menjadi alasan penting untuk memperkuat komunikasi antarelemen.
Perbedaan latar belakang, komunitas, suku, hingga pandangan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun kebersamaan.
Karena itu, Pusura menggagas wadah komunikasi yang dapat mempertemukan berbagai kelompok masyarakat.
Ruang tersebut diharapkan menjadi tempat berdiskusi, bertukar pandangan, sekaligus mencari jalan keluar bersama ketika muncul persoalan sosial di tengah masyarakat.
Hoslih menyebut konsep tersebut memiliki kemiripan dengan tradisi “sinoman” yang lekat dengan semangat guyub, gotong royong, dan saling membantu.
“Dulu ada namanya terkenal Sinoman itu. Jadi Sinoman mungkin ada apa guyuban nanti bisa diskusi barangkali kalau memang kita sama-sama sepakat semua untuk kebaikan Surabaya ke depan,” katanya.
Ia menegaskan, wadah tersebut bukan diarahkan menjadi organisasi baru yang eksklusif. Sebaliknya, konsep yang ditawarkan adalah ruang terbuka bagi berbagai elemen untuk membangun komunikasi dan menjaga hubungan sosial.
“Kita sama-sama guyub, kita bersama rukun meskipun berbeda pendapat. Sinau, belajar bersama. Intinya keberagaman tercipta dalam tema ini,” ucapnya.
Pusura juga menyatakan kesiapannya membantu pemerintah kota ketika dibutuhkan, terutama dalam hal komunikasi maupun mediasi persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
“Kita sudah berkomunikasi dengan teman-teman, baik dalam sisi kegiatan yang positif. Kalau ada sesuatu yang perlu difasilitasi, dimediasi, kami-kami ini insyaallah siap untuk membantu pemerintah kota agar Surabaya tetap aman, nyaman, dan kondusif,” ujar Hoslih.
Sementara itu, Staf Ahli Wali Kota Surabaya Bidang Hukum dan Pemerintahan, Drs. Dedi Irianto, M.M., yang mewakili Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, menyampaikan bahwa perjalanan 90 tahun Pusura merupakan bagian dari perjalanan panjang sejumlah generasi di Kota Surabaya.
Menurutnya, generasi pendiri telah meninggalkan lebih dari sekadar organisasi. Ada nilai kebersamaan, kebajikan, serta kecintaan terhadap bangsa yang perlu diteruskan oleh generasi berikutnya.
“Para pendiri bukan hanya meninggalkan sebuah organisasi, tetapi juga semangat kebersamaan, kebajikan, dan kecintaan kepada bangsa Indonesia,” katanya.
Dedi menilai semangat guyub rukun merupakan salah satu kekuatan masyarakat Surabaya. Pembangunan kota, menurutnya, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat.
“Kalau warga Surabaya sudah bersatu, insyaallah kesulitan apa pun bisa kita hadapi,” ujarnya.
Ia berharap Pusura dapat terus menjadi rumah besar bagi warga Surabaya. Organisasi tersebut dinilai memiliki peran penting dalam menjaga sejarah sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkembang.
“Surabaya membutuhkan generasi penerusnya. Mereka harus mengenal sejarah, mengetahui siapa yang telah berjuang untuk mereka, dan memiliki kesungguhan untuk menentukan masa depan,” tuturnya.
Dedi menambahkan, generasi muda perlu memahami karakter Surabaya, bukan sekadar mengenal nama kota dan tokoh-tokohnya. Nilai keberanian, kepedulian, pantang menyerah, serta gotong royong dinilai menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Surabaya.
Ia pun mengapresiasi keluarga besar Pusura yang selama 90 tahun menjaga eksistensi organisasi, merawat silaturahmi, serta mempertahankan nilai sejarah yang menjadi bagian dari perjalanan Kota Surabaya.
“Semoga organisasi ini semakin solid, semakin hidup, semakin bermanfaat bagi masyarakat, dan terus menjadi bagian penting dalam perjalanan Surabaya,” katanya.
Dedi kemudian mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga Kota Surabaya.
“Surabaya bukan hanya tempat kita tinggal. Surabaya adalah rumah yang harus kita jaga,” pungkasnya. (surabayakabarmetro.id)




