Berita FANTASY Humaniora Utama

Petrikor, Harumnya Bau Tanah Setelah Hujan dan Ingatan yang Tiba-tiba Pulang

Petrikor, Harumnya Bau Tanah Setelah Hujan dan Ingatan yang Tiba-tiba Pulang (unsplash)

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Ada sesuatu yang aneh dari hujan. Bahkan sebelum air benar-benar reda, aroma tanah yang basah sering kali sudah lebih dulu memenuhi udara.

Itu adalah petrikor. Bagi sebagian orang, bau itu terasa begitu akrab. Tiba-tiba saja kita teringat halaman rumah masa kecil, jalanan kampung, perjalanan pulang sekolah, atau sore ketika bermain di luar setelah hujan.

Padahal, tidak ada yang sedang mengajak kita mengingat masa lalu. Kita hanya sedang mencium bau tanah.

Aroma khas setelah hujan sebenarnya memiliki penjelasan ilmiah. Salah satu senyawa yang berperan adalah geosmin, senyawa organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme tertentu di dalam tanah.

Ketika hujan turun, terutama setelah periode kering, tetesan air dapat membantu melepaskan senyawa tersebut ke udara. Geosmin inilah yang kemudian memberikan aroma khas seperti tanah basah yang begitu mudah dikenali manusia.

Namun, geosmin bukan satu-satunya alasan mengapa aroma setelah hujan terasa begitu kuat. Tumbuh-tumbuhan juga dapat berkontribusi melalui minyak dan senyawa lain yang menempel di tanah atau permukaan tanaman. Ketika hujan datang, berbagai senyawa tersebut dapat terlepas dan bercampur di udara, menciptakan aroma yang selama ini kita kenal sebagai bau khas setelah hujan.

Yang menarik bukan hanya bagaimana aroma itu terbentuk, tetapi bagaimana otak kita meresponsnya.

Indra penciuman memiliki hubungan yang erat dengan bagian otak yang berperan dalam pemrosesan emosi dan memori. Karena itu, aroma tertentu dapat memunculkan ingatan yang terasa lebih spontan dibandingkan ketika kita sengaja mencoba mengingat sesuatu. Kita tidak perlu berpikir, “Aku ingin mengingat masa kecil.” Sebuah aroma sudah cukup untuk membawa pikiran ke sana.

Itulah sebabnya satu bau bisa memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang.

Bagi seseorang, bau tanah setelah hujan mungkin mengingatkan pada rumah nenek. Bagi orang lain, aroma yang sama mungkin membawa kembali suasana sekolah, lapangan tempat bermain, atau perjalanan menggunakan sepeda ketika masih kecil. Aromanya mungkin sama, tetapi cerita yang muncul di kepala bisa sangat berbeda.

Hal ini juga menjelaskan mengapa kenangan tertentu terasa begitu hidup ketika dipicu oleh aroma. Ingatan manusia tidak hanya tersimpan dalam bentuk gambar atau kata-kata. Pengalaman sehari-hari juga memiliki unsur suara, rasa, sentuhan, dan aroma. Ketika salah satu unsur itu muncul kembali bertahun-tahun kemudian, bagian lain dari pengalaman lama dapat ikut terbawa.

Ada kalanya kita bahkan tidak langsung menyadari kenangan apa yang muncul. Kita hanya merasa suasananya familiar. Seperti pernah berada di tempat itu, pernah merasakan udara yang sama, atau pernah menjalani sore yang serupa. Baru setelah beberapa saat, sebuah potongan kenangan muncul dengan sendirinya.

Mungkin karena itu pula hujan sering terasa lebih dari sekadar perubahan cuaca. Hujan mengubah suara lingkungan, suhu udara, cahaya, bahkan aroma di sekitar kita. Jalanan yang biasanya berdebu menjadi basah. Udara terasa lebih dingin. Suara kendaraan terdengar berbeda. Dan ketika aroma tanah mulai muncul, sesuatu dari masa lalu kadang ikut terbuka.

Bagi generasi yang tumbuh sebelum kehidupan sehari-hari dipenuhi layar, aroma seperti ini mungkin terasa semakin dekat dengan kenangan masa kecil. Ada halaman rumah, tanah lapang, sandal yang kotor, seragam sekolah yang terkena percikan air, dan sore yang terasa panjang karena tidak ada notifikasi yang harus diperiksa.

Tetapi nostalgia tidak selalu berarti ingin kembali ke masa lalu. Kadang-kadang, ia hanya menjadi pengingat bahwa pernah ada masa ketika hidup terasa lebih sederhana. Aroma tanah setelah hujan menjadi semacam pintu kecil yang menghubungkan kehidupan hari ini dengan pengalaman yang pernah kita jalani.

Menariknya, kita tidak pernah bisa menentukan kenangan apa yang akan muncul ketika mencium aroma tertentu. Itulah yang membuatnya terasa personal. Satu aroma dapat membawa seseorang ke halaman rumah masa kecil, sementara orang lain justru teringat pada perjalanan, seseorang, atau sebuah peristiwa yang sudah lama berlalu.

Jadi, ketika hujan berikutnya turun dan aroma tanah mulai memenuhi udara, mungkin kita tidak sedang sekadar mencium bau setelah hujan. Bisa jadi, otak sedang membuka kembali sebuah ruang kecil dalam ingatan yang selama ini tersimpan tanpa kita sadari. (surabayakabarmetro.id)

Penulis: Alya Sabila

Bagus

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Utama

Toko Karpet di Gemblongan Surabaya Terbakar, Kepanikan Sejumlah Orang Ikut Terekam

SURABAYA – Sebanyak dua toko karpet yang ada di Jalan Gemblongan, Surabaya terbakar, Minggu (16/10/2022) sore kemarin. Saat kejadian, kobaran
Berita Utama

Tim Antasena dan Sapuangin ITS Capai Prestasi Bergengsi di Kancah Internasional, Berjaya di Shell Eco-Marathon 2022

SURABAYA – Satu lagi prestasi yang berhasil ditorehkan oleh para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mereka berhasil meraih prestasi